SEJARAH INDONESIA PADA MASA PERANG KEMERDEKAAN


SEJARAH INDONESIA
PADA MASA PERANG KEMERDEKAAN

disusun guna memenuhi tugas mata kuliah sejarah Indonesia IV
Dosen Pengampu: Dr. Nurul Umamah, M.Pd.


MAKALAH


Oleh
Irma Kristanti
NIM 150210302086



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH
JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER
2018


PRAKATA

Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala limpah rahmat dan hidayah-Nya sehingga makalah yang berjudul “Sejarah Indonesia Pada Masa Perang Kemerdekaan” dapat diselesaikan dengan tepat waktu. Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW.
Penulisan makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Sejarah Nasional Indonesia IV. Selain itu penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Ibu Dr. Nurul Umamah, M.Pd., selaku dosen pengampu mata kuliah dan semua pihak yang telah membantu dalam penulisan makalah ini. Penulis juga berharap dengan adanya makalah ini dapat menjadi salah satu sumber literatur atau sumber informasi pengetahuan bagi pembaca.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, mohon maaf jika ada hal-hal yang kurang berkenan dan penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk menjadikan makalah ini lebih sempurna. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca sekalian.



Jember, 8 Maret 2018

Penulis


DAFTAR ISI

PRAKATA...................................................................................................................ii
DAFTAR ISI...............................................................................................................iii
BAB 1. PENDAHULUAN...........................................................................................1
1.1  Latar Belakang.......................................................................................................1
1.2  Rumusan Masalah.................................................................................................1
1.3  Tujuan.....................................................................................................................2
1.4  Manfaat...................................................................................................................2
BAB 2. PEMBAHASAN..............................................................................................3
2.1 Latar Belakang Perang Kemerdekaan................................................................3
2.1.1 Peristiwa Sekitar Proklamasi.........................................................................3
2.1.2 Sidang-sidang PPKI.......................................................................................4
2.2 Perjuangan Awal...................................................................................................8
2.2.1 Dukungan terhadap Proklamasi.....................................................................8
2.2.2 Perebutan Kekuasaan dan Senjata.................................................................9
2.2.3 Menyusun Kekuatan Pertahanan Keamanan...............................................12
BAB 3. SIMPULAN...................................................................................................15
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................16





BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang                                      
            Proklamasi kemerdekaan Indonesia tidak serta merta mengakhiri perjuangan rakyat Indonesia. Rakyat harus tetap berjuang untuk mempertahankan kemerdekaan yang akan direbut kembali oleh Belanda. Kedatangan Belanda kembali karena merasa berhak atas Indonesia yang semula diambil alih Jepang pada 1942. Alasan kuat bagi belanda untuk mengambil alih Indonesia yang semula diserahkan ke Jepang ketika Belanda menyerah tanpa syarat.                                                        
         Rakyat Indonesia yang telah mendukung kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, menolak kedatangan kembali orang Belanda. Rakyat Indonesia melakukan perlawanan untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia, baik melalui pertempuran dengan angkat senjata maupun dengan jalan perundingan-perundingan. Pelawanan untuk mempertahankan kemerdekaan ini biasa disebut perang kemerdekaan, yang berlangsung dari 1945 sampai 1949.                                                      Berbagai upaya dilakukan oleh bangsa Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaanya, hal tersebut juga semakin menjadi berat karena aksi perlawanan para penjajah yang lebih keras. Sehingga dari hal ini munculah suatu keadaan yang begitu rumit yang menjadikan bangsa Indonesia melakukan perlawanan dan memunculkan perang yang bertujuan untuk mempertahankan posisi kemerdekaan Indonesia. Oleh karena itu, perlu adanya suatu pembahasan lebih mendalam akan hal ini. Yang menjadikan suatu pemaparan sejarah perang kemerdekaan Indonesia.

1.2 Rumusan Masalah
1.        Bagaimanakah latar belakang terjadinya perang kemerdekaan?
2.        Bagaimanakah perjuangan awal bangsa Indonesia dalam menghadapi perang kemerdekaan?

1.3    Tujuan
1.        Untuk mengetahui latar belakang terjadinya perang kemerdekaan.
2.        Untuk mengetahui perjuangan awal bangsa Indonesia dalam menghadapi perang
       kemerdekaan.

1.4    Manfaat
1.        Bagi penulis, dapat memenuhi tugas mata kuliah Sejarah Nasional Indonesia IV.
2.        Bagi pembaca, dapat menambah wawasan kesejarahan mengenai sejarah
       Indonesia pada masa perang kemerdekaan serta dapat menjadi alternatif literatur
       materi terkait.
3.        Bagi pendidik, dapat menjadi alternatif literatur materi terkait.






BAB 2. PEMBAHASAN

2.1 Latar Belakang Terjadinya Perang Kemerdekaan
2.1.1 Peristiwa Sekitar Proklamasi Kemerdekaan
            Pada tanggal 17 Agustus 1945 tepatnya pukul 05.00, para anggota PPKI keluar dari kediaman Laksamana Maeda, bergegas pulang ke rumah masing-masing setelah merumuskan teks proklamasi. Mereka sepakat untuk memproklamasikan kemerdekaan di kediaman Ir. Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur 56, tepatnya pada pukul 10.00 WIB. Sebelum bergegas untuk pulang Bung Hatta berpesan kepada para pemuda yang bekerja di lembaga pers dan kantor berita, terutama B.M. Diah, untuk memperbanyak teks proklamasi dan menyiarkan ke seluruh dunia.
        Para pemuda langsung melakukan kegiatan-kegiatan dengan membagi pekerjaan dalam kelompok-kelompok. Tiap-tiap kelompok mengirimkan kurir untuk memberitahukan kepada masyarakat bahwa saat proklamasi telah tiba. Seperti kelompok Sukarni yang bertugas mengatur penyiaran berita Proklamasi. Semua alat komunikasi seperti pamflet, pengeras suara, dan mobil-mobil akan dikerahkan ke setiap penjuru kota dengan maksud sebagai alat penyebar berita tersebut. Juga dilakukan usaha pengerahan massa untuk mendengarkan pembacaan teks Proklamasi di Pengangsaan Timur 56.
          Ribuan teks Proklamasi berhasil dicetak dengan reneo dan segera disebarkan ke berbagai penjuru kota, ditempelkan di tempat-tempat yang mudah dilihat oleh publik. Juga, secara beranting berita tersebut disampaikan keluar kota Jakarta. Pada tanggal 17 Agustus 1945 para pemuda datang berbondong-bondong menuju ke lapangan Ikada. Tetapi tentara Jepang sudah mengetahui kegiatan para pemuda, dan mereka berusaha menghalanginya dengan menjaga lapangan Ikada. Para pemuda datang berdasarkan informasi dari mulut ke mulut bahwa proklamasi akan di bacakan di tempat tersebut. Mereka tidak mengetahui keputusan terakhir yang diambil oleh PPKI bahwa proklamasi akan dibacakan di Pegangsaan Timur 56. Soediro yang merupakan, pemimpin barisan pelopor, tidak mengetahuinya. Sehingga dia menemui dr. Muwardi yang merupakan Kepala Keamanan Ir. Soekarno untuk menanyakan halq tersebut.
          Setelah pembacaan teks Proklamasi oleh Ir. Soekarno dan Hatta, berita gembira tersebut segera disebarluaskan ke seluruh Indonesia. Sehingga pada tanggal 17 Agustus itu juga, berita bahwa Indonesia telah merdeka telah sampai kepada Kepala Bagian Radio Kantor Berita Domei yakni Waidan B. Panelewen, ia memerintahkan F. Wuz untuk menyiarkan berita sebanyak 3 kali. Mengetahui hal tersebut, orang Jepang marah dan menghentikan penyiaran. Karena Waidan dan F.Wuz tetap menyiarkan berita proklamasi, Jepang tidak kehabisan akal untuk menghentikan yakni dengan meralat berita tersebut dan menyatakan sebagai kekeliruan serta menyegel pemancar kantor berita Domei. Akan tetapi, pemuda Indonesia tidak kehilangan akal, mereka membuat pemancar baru dengan bantuan beberapa orang teknisi radio, Sukarman, Sutamto, Susilahardja, dan Suahandar. Sehingga tercipta pemancar baru di Menteng 31 dengan kode panggilan DJK I. Selain melalui radio, penyebaran berita Proklamasi dimuat dalam harian di Jawa dalam penerbitannya tanggal 20 Agustus yang memuat berita Proklamasi kemerdekaan dan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia.

2.1.2   Sidang-sidang PPKI
2.1.2.1  Sidang Pertama (18 Agustus 1945)
            Sehari setelah pelaksanaan proklamasi pada tanggal 18 Agustus 1945 pukul 11.30, PPKI mengadakan sidang yang pertama di Gedung Pejomban (d.h. Gedung Tyuuoo Sang-In Jakarta) dengan anggotanya antara lain Soepomo, Radjiman, Soeroso, Soetarjo, Wahid Hasjim, Ki. Bagus Hadikusumo, Abdul Kadir, Oto Iskandar, Surjhamidjojo, Purubojo, Yap Tjwan Bing, Latuharhary, Dr. Amir, Abd. Abbas, M. Hassan, Hamadhani, Ratulangi, Andipangeran, ditambah lagi dengan 7 anggota lainnya yaitu Gusti Ketut Pudja, Wiranatakusuma, Ki Hajar Dewantara, Mr. Kasman, Sajuti, Kusuma Sumantri, dan Subardjo. Awalnya Soekarno-Hatta berencana untuk menambah Sembilan orang anggota baru, termasuk dari golongan pemuda, antara lain Sukarni, Chairul Saleh, dan Wikana. Akan tetapi setelah berlangsung pembicaraan yang tidak memuaskan antara Hatta dan Chairul, para pemuda meninggalkan tempat. Mereka masih menganggap bahwa PPKI adalah aparat Jepang. Sidang pertama ini berhasil mengambil keputusan, yaitu:
1.    Mengesahkan Undang-Undang Dasar tahun 1945 yang di dalamnya terdapat
Pancasila sebagai landasan konstitusi yang mengandung landasan idealisme.
Sebelum adanya keputusan ini, Soekarno-Hatta meminta Ki Bagus Hadikusumo, K. H. Wachid Hasjim, Mr. Kasman Singodimedjo, dan Mr. Teuku Mohammad Hassan, untuk membahas rancangan pembukaan Undang-Undang Dasar, yang dibuat pada 22 Juni 1945, khususnya mengenai kalimat “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya,” karena pemeluk agama lain merasa keberatan terhadap kalimat tersebut. Adanya keberatan itu diketahui Hatta sore tanggal 17 Agustus 1945 dari seorang perwira Kaigun (Angkatan Laut Jepang). Perwira ini mengatakan bahwa dicantumkannya kata-kata “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” akan menyebabkan penganut agama lain di daerah Indonesia Timur merasa didiskriminasi dank arena itu mereka lebih suka berdiri di luar RI.
Dengan dipimpin oleh Hatta, tokoh-tokoh Islam tersebut membahas masalah yang cukup sensitif itu. Di antara tokoh-tokoh ini, Ki Bagus Hadikusumo merupakan tokoh berpaham “keras”, artinya ingin tetap mempertahankan tujuh kata tersebut. Sikap keras Hadikusumo dapat dilunakkan oleh  T. M. Hassan dengan mengemukakan argumentasi bahwa persatuan bangsa lebih penting daripada kepentingan golongan. Akhirnya dalam waktu lima belas menit dicapai kata sepakat untuk mengganti tujuh kata tersebut dengan “Yang Maha Esa”, sehingga lengkapnya berbunyi “Ketuhanan Yang Maha Esa.” 
2.        Memilih Ir. Soekarno sebagai presiden dan Drs. Moh. Hatta sebagai wakil
presiden.
Keputusan ini berdasarkan usulan Oto Iskandar Dinata yang menghendaki adanya pemilihan presiden dan wakil presiden dilakukan secara aklamasi. Ia mengajukan calon Bung Karno sebagai presiden dan Bung Hatta sebagai wakil presiden. Semua hadirin menerima dengan aklamasi sambil menyanyikan lagu Indonesia Raya.
3.        Membentuk Panitia kecil
Presiden Soekarno menunjuk Sembilan orang sebagai anggota panitia kecil yang ditugasi menyusun rancangan yang berisi hal-hal yang meminta perhatian mendesak, yakni pembagian wilayah negara, kepolisian, tentara kebangsaan, dan  perekonomian. Mereka adalah Oto Iskandar Dinata, Subardjo, Sajuti Melik, Iwa Kusumasumantri, Wiranatakusumah, Dr, Amir, A.A. Hamidhan, Dr. Ratulangi. Dan Ketut Pudja.

2.1.2.2 Sidang Kedua (19 Agustus 1945)
          Pada sidang kedua dibahas mengenai hasil kerja Panitia Kecil yang dipimpin oleh Oto Iskandar Dinata, kemudian oelh Ir.Soekarno diberi tugas untuk merencanakan membentuk departemen. Keputusan yang dihasilkan yakni:
a.              Pembagian wilayah Indonesia yang terdiri atas 8 provinsi beserta calon gubernurnya (Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Borneo/Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Sunda Kecil/Nusa Tenggara, Sumatera, dua daerah istimewa yakni Yogyakarta dan Surakarta).
1.         Sumatera                     : Teuku Mohammad Hasan
2.         Jawa Barat                  : Sutarjo Kartohadikusumo
3.         Jawa Tengah               : R. Panji Suroso
4.         Jawa Timur                  : A. Suryo
5.         Sunda Kecil                : Mr. I Gusti Ktut Puja
6.         Maluku                        : Mr J. Latuharhary
7.         Sulawesi                      : Dr. G.S. Sam Ratulangi
8.         Kalimantan                  : Ir Pangeran Mohammad Noor
9.         Dan dua daerah istimewa, yaitu Yogyakarta dan Surakarta.
b.             Adanya Komite Nasional (Daerah), panitia kecil yang dipimpin oleh Mr. Ahmad Subardjo menyampaikan bahwa ada 12 kementrian yakni Departemen Dalam Negeri, Departemen Luar Negeri, DepartemenKehakiman, Departemen Keuangan, Departemen Kemakmuran, Departemen Kesehatan, Departemen Pengajaran Pendidikan dan Kebudayaan, Departemen Sosial, Departemen Pertahanan, Departemen Penerangan, Departemen Perhubungan, Departemen Pekerjaan Umum.
          Pada sidang kedua ini, Panitia Kecil mengajukan dua usulan yakni yang pertama menolak rencana pembelaan negara yang disusun BPUPKI karena rencana tersebut mengandung politik perang (tentara Indonesia akan dibentuk bekerja sama dengan Jepang dan dikukuhkan dalam perjanjian, yang kedua membubarkan tentara Peta di Jawa dan Bali seta Lasykar Rakyat (Giyugun) di Sumatera dengan alasan kesatuan militer tersebut buatan Jepang serta kedudukannya di dunia internasional tidak berketentuan. Sehingga Ir.Soekarno memanggil tokoh-tokoh yang mempunyai kekuatan militer untuk membentuk tentara kebangsaan. Kemudian ditunjuk Abdul Kadir (ketua), Kasman Singodimejo, dan Oto Iskandar Dinata untuk mempersiapkan pembentukan tentara kebangsaan.
          Selain pembahasan mengenai pembagian 8 provinsi dan pembentukan 12 departemen juga dibahas mengenai pembentukan KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat). Dibentuknya KNIP didasarkan atas tujuan untuk mempersatukan semua lapisan dan bidang pekerjaan agar tercapai solidaritas dan kesatuan nasional yang erat dan utuh, membantu menentramkan rakyat dan melindungi keamanan serta membantu para pemimpin untuk mewujudkan cita-cita bangsa. KNIP diresmikan pada 29 Agustus 1945 dengan Mr. Kasman Singodimedjo sebagai ketuanya. Setelah pembentukan KNIP diikuti juga pembentukan KNI Daerah (KNID).

2.1.2.3 Sidang Ketiga (22 Agustus 1945)
1. Membentuk PNI (Partai Nasional Indonesia) yang dirancang menjadi partai tunggal Negara Indonesia, namun kemudian dibatalkan.
2.   Membentuk BKR (Badan Keamanan Rakyat) berfungsi sebagai penjaga keamanan umum.
3.   Membentuk KNI (Komite Nasional Indonesia) sebagai badan yang berfungsi sebagai pusat Dewan Perwakilan Rakyat sebelum pemilu dilaksanakan
Kemudian, pada tanggal 23 Agustus 1945, presiden Soekarno mengeluarkan pengumuman yang berisi akan dibentuk BKR (Badan Keamanan Rakyat), PNI (Partai Nasional Indonesia), KNI (Komite Nasional Indonesia). Pada tanggal yang sama wakil presiden Mohammad Hatta memimpin sidang di Gedung Pusat Kebaktian Jawa di Gambir untuk membentuk KNIP (Kominte Nasional Indonesia Pusat), yang diawali dengan pembubaran PPKI. Kemudian pelantikan KNIP dilangsungkan pada tanggal 29 Agustus 1945.

2.2 Perjuangan Awal
2.2.1 Dukungan Terhadap Proklamasi
          Dibalik penyebaran berita Proklamasi kemerdekaan, terdapat daerah yang ketinggalan informasi. Hal itu disebabkan oleh sulitnya komunikasi dan adanya penyegelan radio yang dilakukan Jepang pada waktu sebelumnya. Akan tetapi, setelah mengetahui berita, tokoh-tokoh daerah menyatakan dukungannya. Seperti yang dilakukan Raja Yogyakarta yakni Sultan Hamengku Buwono IX yang mengirimkan ucapan selamat atas diproklamasikannya kemerdekaan kepada Ir. Soekarno dan Moh. Hatta serta kepada dr. Radjiman Wediodiningrat.
          Dukungan daerah pada umumnya diwujudkan dengan pembentukan pemerintahan dan KNI setempat. Dukungan juga dinyatakan oleh para pegawai yang tadinya bekerja di jawatan-jawatan Pemerintahan Jepang. Pada tanggal 30 Agustus 1945 para pegawai ini disertai dengan anggota polisi mengadakan konferensi yang diprakarsai oleh Sutardjo Kartohadikusumo ini, mereka menyatakan diri sebagai pegawai dan polisi Indonesia. Sejak itu mereka mengambil alih kantor-kantor pemerintah dari tangan Jepang. Masyarakat umum menyatakan dukungannya dalam bentuk rapat-rapat raksasa. Seperti rapat yang dilaksanakan di Surabaya tepatnya di Tambaksari (11 September 1945) dan di Pasar Turi (17 September 1945) serta di Medan (6 Oktober 1945). Dalam rapat raksasa tersebut diserukan agar segera mengambil alih kekuasaan dari tangan Jepang.
       Rapat raksasa yang berskala dan bersifat nasional karena dihadiri oleh Presiden dan Wakil Presiden RI serta sejumlah menteri, berlangsung pada tanggal 19 September 1945 di Lapangan Ikada, Jakarta. Rapat ini direncanakan oleh Komite van aksi. Tujuannya ialah agar para pemimpin pemerintahan berbicara secara langsung dengan rakyat.

2.2.2 Perebutan Kekuasaan dan Senjata
          Dibeberapa daerah Indonesia terjadi perebutan kekuasaan, baik dengan cara kekerasan, maupun dengan jalan perundingan. Di beberapa karesidenan di Jawa, pada bulan September 1945 pemimpin masing-masing menyambut Proklamasi Kemerdekaan dengan menyatakan diri sebagai pemerintah Republik Indonesia dan mengancam bahwa segala tindakan yang menentang pemerintahan RI akan diambil tindakan keras. Pegawai-pegawai Jepang di rumahkan, dilarang memasuki kantor-kantor mereka. Para pemuda berusaha merebut senjata dan gedung-gedung vital. Seperti yang terjadi di Surabaya selama bulan September terjadi perebutan senjata di arsenal (gudang mesiu) Don Bosco, perebutan markas-markas tentara Jepang serta pabrik-pabrik yang tersebar diseuruh kota.
          Pada tanggal 19 September 1945, ketika perebutan senjata Jepang masih berlangsung, terjadi insiden bendera di Hotel Yamato. Insiden ini pecah ketika orang-orang Belanda bekas tawanan Jepang menduduki hotel tersebut dibantu oleh serombongan pasukan Inggris yang diterjunkan di Gunungsari, untuk mendirikan Markas RAPWI. Orang-orang Belanda tersebut mengibarkan bendera mereka di puncak hotel. Hotel tersebut diserbu oleh para pemuda, setelah permintaan Residen Sudirman dengan cara baik-baik untuk menurunkan bendera Belanda ditolak oleh penghuni hotel. Bentrokan tersebut tidak dapat dihindarkan. Beberapa orang pemuda berhasil memanjat atap hotel serta menurunkan bendera Belanda yang berkibar diatasnya. Mereka merobek warna birunya dan mengibarkannya kembali sebagai Merah Putih.
          Sasaran perebutan selanjutnya adalah Markas Kempeitai yang dianggap sebagai lambang kekejaman pemerintahan Jepang. Pada tanggal 1 Oktober 1945, markas itu diserbu oleh rakyat. Gedung dipertahankan dengan gigih oleh pihak Jepang, tetapi jatuh ke tangan rakyat setelah pertempuran selama 5 jam. Dalam pertempuran ini 25 orang pemuda gugur dan 60 luka-luka, sedangkan 15 orang prajurit Jepang mati.
          Di Yogyakarta, pada tanggal 26 September terjadi aksi pemogokan yang dilakukan oleh pegawai-pegawai yang bekerja di instansi dan perusahaan-perusahaan yang dikuasai Jepang. Mereka memaksa orang-orang Jepang untuk menyerahkan semua kantor kepada orang Indonesia. Sehingga pada tanggal 27 September1945, KNI daerah Yogyakarta mengumumkan bahwa kekuasaan di daerah itu telah berada di tangan pemerintah RI, disamping itu juga terbit suatu surat kabar yakni “Kedaulatan Rakyat”
          Pada tanggal 7 Oktober 1945, para pemuda yang tergabung dalam BKR bersama Polisi Istimewa menuju Kota Baru untuk menyerbu tangsi Otsuka Butai (sekarang gedung SMA di sebelah Sentral Telepon). Pada hari itu juga Otsuka Butai menyerah.
          Di Bandung, terjadi pertempuran yang dilakukan oleh para pemuda untuk merebut pangkalan udara Andir dan pabrik senjata bekas Artillerie Constructive Winkel (ACW, sekarang Pindad), dan berlangsung hingga kedatangan pasukan Inggris di Kota Bandung pada tanggal 17 Oktober 1945.
          Di Semarang, terjadi perebutan senjata yang meniimbulkan korban cukup banyak. Pada saat itu terdapat pasukan Jepang (Kido Butai) di bawah pimpinan Mayor Kido. Gubernur Jawa Tengah yakni Wongsonegoro meminta agar Mayor Kido menyerahkan senjata pasukannya kepada pemerintah RI dengan jaminan tidk menggunakannya untuk melawan Jepang. Mayor Kido menyerahkan sebagian senjata, yang menimbulkan rasa tidak puas di kalangan pemuda yang tergabung dalam BKR dan laskar-laskar, sehingga mereka menempuh jalan perampasan senjata dan kendaraan-kendaraan Jepang secara paksa.
          Pada tanggal 14 Oktober 1945, 400 tentara Jepang diangkut ke Semarang  untuk dimasukkan ke penjara Bulu dengan dikawal oleh polisi Indonesia. Tetapi di tengah perjalanan beberapa tentara tersebut berhasil melarikan diri dan bergabung dengan pasukan Kido Butai di Jatingaleh. Sehingga pada 15 Oktober 1945, pasukan Kido Butai bergerak ke dalam kota ( di Simpang Lima dan di Hotel Du Pavillon) dan melakukan pertempuran dengan membunuh siapa saja yang mereka temui. Pertempuran tersebut berlangsung hingga 19 Oktober 1945 sehingga terkenal dengan Pertempurann Lima Hari di Semarang. Pertempuran tersebut berakhir setelah pasukan sekutu mendarat di Semarang yang langsung melucuti pasukan Jepang.
          Di Gorontalo, pada 13 September 1945 terjadi perebutan senjata terhadap markas-markas Jepang. Kedaulatan RI berhasil ditegakkan dan pemimpin-pemimpin Republik menolak ajakan untuk berunding dengan pasukan penduduk Australia.
          Di Sumatera Selatan, terjadi perebutan kekuasaan pada tanggal 8 Oktober 1945 ketika residen Sumatra Selatan dr. A.K Gani bersama seluruh pegawai Gunseibu dalam suatu upacara mengerek bendera Merah Putih. Pada hari itu juga, diumumkan bahwa seluruh Keresidenan Palembang hanya ada satu kekuasaan yakni kekuasaan Republik Indonesia.
          Di Tebing Tinggi, Sumatra Utara terjadi pembantaian yang dilakukan oleh Jepang terhadap rakyat Indonesia karena para pemuda Tebing Tinggi menahan kereta api yang mengangkut orang-orang sipil Jepang menuju Kisaran dan para pemuda juga meminta agar Jepang menyerahkan senjata. Tetapi pihak Jepang menolak, dan 4 orang Jepang disandera. Akibatnya pada 13 Desember 1945, Jepang menyerang Tebing Tinggi.
          Selain melalui pertempuran dan perebutan dalam pengambilan senjata Jepang, juga melalui jalan perundingan atau dengan nama lain “perang pura-pura”, seperti yang terjadi di Banyumas, Komandan Divisi V TKR Kolonel Soedirman dan Residen Iskaq Tjokroadisurjo berhasil memperoleh senjata melalui jalan perundingan dengan komandan Jepang.
          Di Bali, para pemuda membentuk beberapa organisasi seperti AMI dan Pemuda Republik Indonesia (pada akhir bulan Agustus). Mereka berusaha menegakkan kekuasaan RI melalui perundingan, tetapi mendapat hambatan. Pada tanggal 13 Desember 1945, mereka melakukan gerakan serentak untuk merebut kekuasaan dari tangan Jepang, tetapi gagal.
          Di Lengkong, Tangerang (Banten), terjadi perebutan senjata secara paksa oleh Komandan Resimen IV Letnan Kolonel Singgih dengan mengerahkan para TARUNA Akademi Militer Tangerang dibawah pimpinan Mayor Daan Mogot. Tetapi Jepang berhasil merebut kembali.
          Di Sulawesi Utara, pada tanggal 14 Februari 1946 pemuda-pemuda Indonesia anggota KNIL yang tergabung dalam Pasukan Pemuda Indonesia (PPI) mengadakan gerakan di Tangsi Putih dan Tangsi Hitamdi Teling, Manado. Mereka membebaskan tokoh-tokoh pro-RI yang ditahan NICA, mereka juga menahan Komandan Garnisun Manado dan semua pasukan Belanda di Teling dan Penjara Manado. Sehingga para pemuda berhasil menguasai markas Belanda di Tomohon dan Tondano. Mereka mengirim berita mengenai perebutann kekuasaan kepada pemerintah pusat yang menghasilkan Maklumat No.1 yang ditandatangani Ch.Taulu yakni berhasil membentuk pemerintah sipil pada 16 Februari 1946.  
          Di Biak, terjadi pemberontakan pada 14 Maret 1948 yang sasarannya adalah Kamp NICA, tangsi Sorido.

2.2.3 Menyusun Kekuatan Pertahanan Keamanan
          Di bagian sudah disebutkan bahwa pada tanggal 22 Agustus 1945 PPKI mengambil keputusan untuk membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR). Keputusan itu merupakan perubahan dari keputusan yang diambil dalam tiga hari sebelumnya tentang pembentukan tentara kebangsaan. BKR bertugas sebagai penjaga keamanan umum di daerah-daerah di bawah koordinasi Komite Nasional Indonesia (KNI) setempat.
          DI Jakarta dibentuk BKR Pusat di bawah pimpinan Kasman Singodimedjo (bekas Daidancho Peta Jakarta). Para pemuda bekas Kaigun Heiho, karyawan Jawa Unko Kaisha serta para siswa dan guru-guru Sekolah Tinggi Pelayaran membentuk BKR Laut di daerah-daerah pelabuhan. Di Jakarta terbentuk BKR Laut Pusat di bawah pimpinan M. Pardi, dibantu antara lain oleh R.E. Martadinata. Sementara itu, para pemuda disekitar pangkalan udara membentuk BKR udara, antara lain di Bugis (Malang), Maospati (Madiun), Kali Banteng (Semarang), Cibereuem (Tasikmalaya), dan Cililitan (Jakarta), serta dibeberapa tempat di Sumatra.
          Berkembangnya kekuatan pertahanan dan keamanan yang begitu cepat, memerlukan suatu pemipin yang kuat dan berwibawaan untuk mengatasi segala persoalan akibat dari pengembangan tersebut. Suprijadi yang telah dipilih untuk menjadi seorang pemimpin tertinggi TKR ternyata tidak pernah menduduki posnya. Diperkirakan ia sudah dibunuh oleh Jepang setelah pemberontakan yang dipimpinnya di Blitar, gagal. Lalu diadakanlah pemilihan pemimpin yang baru, yang dipilih adalah Kolonel Soedirman, Komandan Devisi V/ Banyumas. Sebulan kemudian pada tanggal 18 Desember 1945 Soedirman dilantik menjadai Panglima Besar (Pangsar) TKR dengan pangkat Jendral. Terpilihnya Soedirman merupakan titik tolak perkembangan organisasi kekuatan pertahanan keamanan. TKR kemudian merubah nama menjadi TRI  pada bulan Januari 1946. Soedirman berpendapat bahwa TRI  adalah tantara nasional dan tentara rakyat yang percaya pada kekuatan sendiri tanpa mengharap bantuan dari luar negeri. BKR yang kemudian menjadi TKR dan TRI, menganggap bahwa dirinya pejuang yang bersenjata dan juga aktif dalam suatu bidang sosial. Kedua kelompok pejuang ini kemudian diintegrasikan menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI) pada bulan Juni 1947, tentara yang bukan semata-mata untuk alat pemerintahan juga sebagai alat rakyat, alat “revolusi” dan alat bangsa Indonesia.
          Pada tanggal 29 September 1945, R.S. Soekanto Tjokrodiatmodjo diangkat menjadi Kepala Kepolisian Negara (KKN). Pada tanggal 1 Juli1946 barulah Kepolisian Negara dipisahkan dari Departemen Dalam Negeri dan ditempatkan langsung dibawah perdana menteri. Mula-mula kepolisian berkedudukan di Jakarta. Namun setelah Kementrian Dalam Negeri pindah ke Purwokerto pindah pula ke Purwokerto. Di Purwokertolah wal pembinaan Polisi.
          Pada waktu Belanda melancarkan Agresi Militer Pertama, kepolisian Negara dimiliterisasi dan ditempatkan teknis dibawah komando militer setempat. Setelah Purwokerto diduduki oleh Belanda, kedudukan pusat Kepolisian dipindahkan ke Yogya.





BAB 3. SIMPULAN

          Perjuangan bangsa Indonesia menuju kemerdekaan merupakan suatu perjuangan yang sangat luar biasa, dibuktikan ketika penyebaraan berita proklamasi bangsa Indonesia yang mendapat gangguan dari orang-orang Jepang, namun karena keberanian dan semangat berjuang kaum pemuda bangsa Indonesia yang bertekad ingin merdeka dan terbebas dari segala bentuk penjajahan mengakibatkan Jepang tidak mampu berkutik. Namun, selain Jepang yang singgah di Indonesia juga terdapat pasukan Belanda dan Inggris yang berusaha menguasai Indonesia namun keduanya tetap saja tidak berhasil karena semangat perlawanan bangsa Indonesia yang selalu berkobar mengakibatkan para sekutu tidak dapat menduduki Indonesia. Dengan demikian, bangsa Indonesia mendapatkan kemerdekaan dan terbebas dari segala bentuk penjajahan.




DAFTAR PUSTAKA

Imran, Amrin. 2012. Indonesia dalam Arus Sejarah Jilid VI. Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve.
Moeiman, Susi, dkk. 2016. Serdadu Belanda di Indonesia 1945-1950. Terjemahan. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Poesponegoro, Marwati Djoned. 2011. Sejarah Nasional Indonesia VI. Jakarta: Balai Pustaka.
Suganda, Her, 2009,  Rengasdengklok. Jakarta: PT Kompas Media Nusantara.       





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Media Pembelajaran

Puisi Cinta